Home / KOLOM PENULIS / Tujuh Likur, Dalam Tradisi Muslim Melayu di 10 Akhir Ramadan

Tujuh Likur, Dalam Tradisi Muslim Melayu di 10 Akhir Ramadan

Ada beberapa anjuran kepada umat muslim menjelang 10 berakhir ramadan. Salah satunya adalah Itikaf dan mencari malam Lailatul Qadar.

Menurut Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Baari, ada tiga amalam di 10 terakhir bulan Ramadan yang bisa kamu lalukan. Mengutip dari berbagai sumber, berikut ini amalan di 10 terakhir bulan. Diantaranya, memperbanyak sedekah, memperbanyak membaca Alquran dan beri’tikaf di masjid.

BACA JUGA :  Desa Ini Sulap Hutan ini Taman Rekreasi Berkelas

Pada 10 malam terakhir ramadan, merupakan puncak mencari pahala sebanyak-banyaknya. Rasulullah semasa hidupnya memperbanyak ibadah di malam 10 terakhir ramadan dan mencari Lailatul Qadar.

Di dalam hadis riwayat ‘Aisyah dijelaskan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al-Bukhari).

Namun, dalam tradisi melayu, 10 terakhir ramadan lebih dikenal istilah tujuh likur. Pada setiap malam ini, masyarakat Melayu akan banyak memasang lampu berbahan minyak tanah.

Sebagian masyarakat Melayu juga melakukan tradisi kenduri atau istilah lainnya syukuran. Biasanya mereka melaksanakan tradisi ini memangil tetangga sekitar. Uniknya, terkadang ketupat pun sebagai makanan utama dalam pelaksanaan malam tujuh likur.

Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun masyarakat Melayu terutama di Riau dan Kepulauan Riau. Di desa saya juga, tradisi ini masih kental ada di masyarakat. Mereka melakukan dengan suka rela dan tanpa paksaan.

Mengutip dari berbagai sumber, Kata Likur ini berasal dari bahasa Melayu yang diartikan sebagai suatu kata untuk menyatakan bilangan antara 20 dan 30. Di negara Jiran kata Likur biasanya digunakan untuk mengatakan waktu malam 21 sampai 29 Ramadhan.

Tradisi Tujuh Likur yang memang identik dengan etnis melayu ini juga terdapat di Lampung, Banjarmasin, Riau, Jambi, dan Bengkulu

Pada malam itu setiap rumah memasang lampu berbahan bakar minyak tanah menggunakan wadah kaleng atau botol bekas minuman atau menggunakan buluh bambu dengan diberi sumbu. Pelita-pelita itu dipasang berjejeran di depan rumah dan sepanjang jalan.

Di setiap perbatasan antara desa dibangun gerbang yang dihiasi pelita dan ukiran-ukiran kaligrafi Islami. Berbagai bentuk miniatur bangunan dan seni bernuansa Islami juga dibangun sepanjang jalan untuk menyemarakkan malam-malam akhir dari Ramadhan.

Bahkan pemerintah sering melaksanakan Festival Malam 7 Likur. Dinas pariwisata dimasukkan kedalam agenda wisata Kabupaten . Untuk menambah semaraknya festival ini, kreasi lampu likur yang telah dibuat ini juga diperlombakan.

Malam tujuh likur ini juga dikenal sebagai bentuk rasa suka cita masyarakat Melayu setelah selesai melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Malam tujuh likur memang tidak ada dalam kamus Islam, apalagi dalil mengajurkan pelaksanaan malam ini. Namun, tujuh likur ada tradisi masyarakat Melayu yang telah ada sejak zaman-zaman kerajaan Melayu.

Dan sampai saat ini tujuh likur masih dilestarikan masyarakat sebagai bentuk mengenang tradisi Melayu kita, yang telah ada berabad-abad lalu.

Pepatah yang kental saat ini, dalam tradisi Melayu adalah” Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah adalah Setiap aktivitas hidup kita harus berdasarkan atas tuntunan dan syariat agama kita”

“Takan Melayu Hilang di Bumi”

Penulis Ahmad Yani

About admin

Check Also

Antara Karakter dan Nilai Ujian Anak, Mana Lebih Penting!

Menyamakan orang lain tidak akan mampu kita lakukan. Karena setiap yang terlahir memiliki sifat dan …

One comment

  1. Maaf bukankah kata ‘Likur’ itu dari bahase jawa wai..
    Malam 7 likur .. ‘malam 27’ karena biasanya tradisi kite di kampung memang pas malam ke 27 itu banyak yg masang pelite & dan ada juga yg membuat jadi gerbang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *