Home / INSPIRASI / Susahnya Kita Ada Lagi Yang Lebih Susah

Susahnya Kita Ada Lagi Yang Lebih Susah

Kita sering mengeluh ketika dihadapi berbagai persoalan, sehingga itu menjadi beban dalam pikiran. Bukanya mencari jalan keluar tetapi menambah berat beban hidup tersebut.

Manusia normal pasti akan menghadapi berbagai persoalan hidup, baik menyangkut ekonomi, pekerjaan hingga hubungan sosial. Itu yang saya baca dari beberapa buku.

BACA JUGA : Tangis Bahagi Pelepasan Siswa SMP N 2 Senayang

Hanya saja ada yang mudah mencari jalan keluar persoalan tersebut, ada yang sulit hingga membuat pikiran kita tak beraturan. Setiap orang memecahkan persoalan dengan cara masing-masing, meski ada teori kita pelajari tentang “Manajeman Konflik”.

Memang banyak jalan untuk sampai ke Mekkah. Bisa lewat Indonesia, Singapura, Malaysia, Timur Tenggah, Eropa, Amerika dan lain-lain. Jarak-jaraknya pasti berbeda dari jalan-jalan menuju ke Mekkah itu. Kendati berbeda jarak, mereka yang melewati lain jalan pasti tetap sampai juga ke Mekkah. Hanya waktu saja yang membedakanya.

Begitu juga persoalan hidup. Memecahkan suatu persoalan sama halnya menuju ke Mekkah tadi. Ada yang cepat mencari solusi, namun ada juga yang bertahun-tahun tak juga mendapatkan jalan keluar. Tetapi saya yakin, apapun kesulitan pasti ada solusi, kendati harus memakan waktu cukup lama. Yah, bersabar. Yah, “Tidak ada penyakit yang tidak memiliki penawarnya”.

BACA JUGA :  Intelektual Handal di Lingga

Saya, kamu, kalian, kita, dan dia. Pasti memiliki persoalan/konflik kehidupan. Namun, cara kita menyikapi konflink ini pasti berbeda-beda.

Pernah seketika saya ketemu dengan seseorang menderita penyakit TBC. Badanya makin kurus. Beliau, tidak memiliki tepat tinggal, identitas diri pun tidak ada, pekerjaan apalagi, tempat tinggalnya juga hanya “Masjid”. Namun, pemuda tersebut sempat menginpirasi saya..yah menyemangat…

Waktu itu, saya ingin menunaikan sholat Insyak. Selesai sholat saya sejenak bersitriahat di masjid tersebut. Datang seseorang mengahmpiri saya. Tak sungkan, dia pun langsung menyapa saya dan memperkenalkan dirinya.

Melihat badanya kurus dan kedinginan, tak lama saya melihatnya, langsung saya melontarnya pertanyaan. “Kenapa badanmu kurus sekali mas,” tanya saya. Dia pun pas duduk didepan saya, seperti sudah lama kenal padahal baru beberapa menit.

“Saya kena penyakit bang..”TBC”” kata pemuda mengaku berusia 27 tahun tersebut. Saya pun agak kaget ketika itu.

“Sudah makan,” tanya saya lagi ke dia.

“Belum” jawab sang pemuda itu.

“Terus dari mana kamu tadi,” kata saya.

“Saya keliling-keling kedai makan, ke toko-toko cari pekerjaan,” katanya. Tapi, tak satu pun kedai makan dan tokoh mau menerimanya bekerja.

Beruntung waktu itu, di kocek saya ada uang sekitar Rp 14 ribu. Saya langsung menyerahkan kepada pemuda tersebut agar membeli nasi di depan masjid. Pemuda yang mengaku menderita TBC itu, langsung mengambil pemberian sisa uang saya itu. Yah, Rp 7 ribu, ia sisakan untuk makan siang besok.

“Beli nasi Rp 7 ribu aja bang. Bisa untuk besok nih Rp 7 ribu lagi,” begitulah dia merintih.

Saya sempat bertanya. Jika dirinya menderita TBC, pasti butuh biaya tak sedikit untuk perobtanya. Saya lalu bertanya ke pemuda ini.

“Pernah berobat sejak kena TBC,”

“Yah, Alhamdulilah, kemarin ada jamaah memberi saya Rp 200 ribu agar berobat,” kata pemuda itu.

Entahlah…bagaimana sekarang nasib abang tersebut, bagaimana dia bertahan hidup, dengan kondisinya saat ini. Keluarga tidak ada, merantau jauh dari kampung halaman, tanpa identitas.

“Saya malas mau menyusahkan keluarga saya bang. Biarlah saya mati di rantau,” itulah ucapan terakhirnya. Saya sejenak terdiam……namun pemuda tersebut tampak senang.

Mungkin, persoalan hidupnya lebih berat dari kita sekarang. Ketika kita masih memiliki pekerjaan, keluarga masih memperhatikan, dan masih ketemu dengan sanak saudara. Namun, pemuda menderita TBC kini tak ada memperhatinya lagi.

Bahkan, untuk tidur saja dia rela pindah-pidah ke masjid.

“Saya tidur di masjid minta izin dulu sama pengurusnya. Ada yang ngasi satu minggu ada yang lebih. Tapi ada yang tidak mau,”

Begitulah hidup…..susahnya kita ada lagi yang lebih susah…Bersyukur….

 

Penulis Ahmad Yani

Guru SMPN 2 Senayang

About aan

Pernah bergelut di dunia jurnalistik selama 5 tahun dan dua tahun sebagai Sekretaris Desa. Media ini Merupakan sarana informasi yang dibangun untuk mempublikasikan ide dan gagasan, maupun informasi tentang desa di Nusantara. Isi informasi dan berita berasal dari sumber dan media yang dipercaya. Media ini bersifat privasi dan memiliki tujuan positif untuk membantu desa mendapatkan informasi. Bukan untuk bisnis, pengelola menerima berita dari desa dan artikel seputar desa. : WA :081364175687 dan email : neniastaria1987@gmail.com

Check Also

Mengintip Pasar Rempah dan Sayur Dadakan di Rejai Lingga

LINGGA – Ramai. Begitulah suasana malam ketika ada pedagang dadakan bejaja di Rejai. Suasana itu …