Home / KOLOM PENULIS / Ketika 1 Rupiah Berharga

Ketika 1 Rupiah Berharga

Harga kebutuhan pokok yang tinggi membuat kita harus giat dalam bekerja. Kebutuhan sehari-hari tidak cukup Rp 50 ribu, apalagi mereka yang suka doyan ngopi dan nongkrong di cafe-cafe. Sudah pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit dikeluarkan setiap hari.

Saya hari ini, dapat melihat uang era tahun 50-an dan 60-an. Pada tahun itu, uang kertas Rp 1 rupiah masih berlaku dan bernilai dalam transaksi jual beli.

BACA JUGA :   Desa Ini Sulap Hutan Jadi Tempat Rekreasi Berkalas Dunia

Uang Rp 1 berwarna merah putih, berlambang Garuda dan foto Presiden Pertama Ir Soekarno itu tampak gagah dengan nilainya. Meski hanya satu angka, uang era tahun 50-an itu dapat bertransaksi beras atau gula.

 

Mata uang tempo dulu

Kaget dan terkejut juga saya melihat uang Rp 1 rupiah ini. Jika digunakan pada saat ini, uang 1 rupiah itu mungkin sudah tidak dapat membeli satu buah permen. Apalagi untuk membeli roti.

Uang tersebut tidak beradar lagi dan bahkan untuk transaksi aja sudah tidak dihitung dalam mata uang kita. Hanya saja, saya sempat berpikir sejenak, ternyata kita pernah memiliki mata uang dengan angka terkecil namun nilainya besar.

Saat ini, mata uang kita memang menggunakan angka yang besar tapi nilainya kecil. Bahkan, dengan mata uang Malaysia (Ringit) aja kita masih kalah. Berkisar 1 banding 3.

Bayangkan RM 1 jika ditukar dengan mata uang kita dapatnya Rp 3.000,-. Coba kita lihat, mata uang Malaysia satu angka saja, dapat ditukar dengan tiga nol dibelakang mata uang kita.

Mata uang tempo dulu

Kita pun tahu, mata uang kertas kita sering berubah-ubah warna dan bentuk. Dan bahkan dahulu angka terkecil uang kita adalah 1 rupiah. Seiring perkembangan ekonomi dan politik, mata uang terendah adalah 50 rupiah hingga 100 rupiah.

Hampir 50 atau 60 tahun berlalu dalam penggunaan mata uang 1 rupiah, saat ini uang tersebut tidak bisa kita lihat lagi.

Lantas apakah, yang akan terjadi pada 50 atau 100 tahun mendatang. Apakah, mata uang kita semakin besar tapi nilainya kecil. Bisa jadi uang 50 ribu rupiah hanya dapat membeli satu buah permen saja. Semoga ini tidak terjadi.

Jika hal itu terjadi, pada saat itu pasti negara kita sedang terpuruk dalam ekonomi. Karena pengaruh mata uang ini akibat buruknya ekonomi kita.

Kita pun tahu bahwa uang kertas ini dikendalikan oleh kaum kapitalisme. Desain mata uang ini dibuat sedemikian rupa dan bentuk agar masyarakat dapat menggunakan.

Negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah tetap miskin jika nilai mata uangnya rendah. Contohnya negara kita. Meski, SDA kita berada di seluruh sisi, tetap saja kita masih dibilang negara dunia ketiga atau salah satu Negera termiskin di dunia.

Sebelum diberlakukannya dan diseragamkan mata uang kertas, sejarah banyak mencatat transaksi jual beli masyarakat kala itu menggunakan perak dan bahkan emas. Namun, entah kenapa seluruh negara di dunia saat ini menyeragamkan mata uang dengan kertas.

Penulis : Ahmad Yani, mantan wartawan. Kini bergelut di dunia pendidikan

About aan

Media ini Merupakan sarana informasi yang dibangun untuk mempublikasikan ide dan gagasan, maupun informasi tentang desa di Nusantara. Isi informasi dan berita berasal dari sumber dan media yang dipercaya. Media ini bersifat privasi dan memiliki tujuan positif untuk membantu desa mendapatkan informasi. Media ini bukan untuk bisnis.

Check Also

Kasus Kontroversi Bibit Padi, Kebijakan Pengendalian Beras dan Produk produk Yang mengusai Hajat Hidup Orang Banyak 

  Semarang – Mengingat semakin ramainya dan carut marut kasus Penangkapan peredaran bibit padi yang …

6 comments

  1. Saya simpan uang 1000 lah, siapa tau 10 tahun lagi berharga ?.
    Btw artikel yg bagus gan

  2. Mantap bangg, sering sering aja upload biar ane bisa belajar dari abang, sukses terus