Home / Kepri / Intelektual Muslim Handal di Lingga, Al Qur’an Bertuliskan Tanggan Berusia Satu Abad Bukti Tak Terbantahkan

Intelektual Muslim Handal di Lingga, Al Qur’an Bertuliskan Tanggan Berusia Satu Abad Bukti Tak Terbantahkan

Lingga – Kali ini penulis akan mengajak pembaca untuk melihat dan menyerapi manuskrip Al Qur’an yang tersimpan di Museum Lingam Cahaya Daik Kabupaten Lingga.

Penulis sempat berpikir sendiri kalau anak-anak Melayu di Negeri Lingga telah melahirkan banyak ulama dan cendikiawan Muslim pada zamanya.

Hal ini bisa kita lihat di Museum yang menyimpan banyak koleksi peninggalan kesulitan Lingga sepeti manuskrip Al Quran.

Pada zamanya, kesultanan Lingga memang di kenal di seantero Nusantara. Dan banyak melahirkan tokoh-tokoh dan intelektual muslim.

Sekitar satu Abad lalu, Kerajaan Kesultanan Lingga memiliki banyak para ahli Alquran dan Hadist. Di pulau ini dulu telah melahirkan ulama-ulama termasyur dan intelektual muslim.

Para ahli Al Qur’an pada zaman kerjaan Lingga sudah tidak diragukan kemampunua . Mereka mampu menulis Al Qur’an menggunakan tangan. Bukan pekerjaan mudah dan gampang menulis 30 juz ayat Al Qur’an, harus memiliki kemampuan menulis dan membaca bahasa Arab.

Manuskrip Al-Quran berusia satu abad lebih bertuliskan tanggan dapat kita lihat di Museum Linggam Cahaya. Itu adalah bukti otentik dan tak terbantahkan kalau Lingga menyimpan ulama-ulama yang termasyhur.

Mushaf 1

Mushaf ini merupakan koleksi Museum Linggam Cahaya, Dinas Parawisata Pulau Lingga. Mushaf dengan kode 196 ini awalnya merupakan koleksi masyarakat setempat yang kemudian diserahkan kepada pegawai museum untuk dijaga dan dipelihara. Keadaan manuskrip ini sudah tidak utuh lagi, tidak ada kulit, dan juga halaman depan belakang. Setiap halaman mushaf ini terdiri dari 15 baris, dan memiliki ukuran 25 x 20 cm, tebal 2,3 cm, dan ukuran bidang teks 17 x 13 cm. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa, sementara tinta yang dipakai berwarna hitam untuk tulisan teks, dan merah untuk penandaan penandaan ayat, awal juz dan awal surah.

.  

Mushaf 2

Manuskrip ini ditulis pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah yang berkuasa pada rentang 1883 – 1911. Sebelum dimiliki musem, mushaf ini awalnya adalah milik Bapak Sabaruddin, Kampung Bugis, Daik. Keadan manuskrip ini sudah tidak utuh, bahkan jika dibandingkan dengan mushaf yang pertama. Tidak ada kulit depan dan belakang, halaman awal maupun akhir, sisi-sisi halamannya bahkan sudah termakan sehingga bentuknya sudah tidak simetris lagi. Ukuran muhaf ini adalah 29 x 19 cm, tebal 4 cm, dengan ukuran bidang teks 20 x 12 cm. Tinta yang digunakan adalah hitam, merah dan kuning; hitam untuk teks utama, merah untuk penandaan ayat dan awal surah serta untuk garis pinggir pembatas bidang teks; tinta kuning digunakan untuk pembatas bidang teks yang dipadukan dengan tinta hitam, serta digunakan untuk ilmuminasi pada setiap penandaan nisf, rubu dan sumun. Berbeda dengan yang pertama, mushaf dengan kode 185 menggunakan rasm imlai, namun penggunaan tulisan Usmani nya lebih banyak, dan tidak terbatas pada lafaz-lafaz tertentu seperti shalat, dan lainnya. Qiraah yang digunakan adalah Hafs ‘an ‘Asim. Tanda tajwid juga sudah dipakai pada mushaf ini, seperti penandaan untuk mad wajib dan jaiz.

Mushaf 3

Muhaf dengan kode 220 ini pada mulanya dimiliki oleh Zulkifli dari Kampung Salak Daik dan diperoleh musem dengan cara dibeli. Patut disayangkan, karena mushaf ini sangat bagus, terutama dari ilmunasi berbentuk floral yang digunakan, juga kombinasi warna merah, hitam kuning keemasan dan hijau beberapa bagiannya. Warna merah, selain digunakan untuk ilumninasi, juga digunakan untuk menulis setiap lafaz Allah yang menggunakan khat naskhi seperti halnya mushaf-mushaf modern. Mushaf ini sesungguhnya masih cukup lengkap dilihat dari ketebalan halamannya, namun karena tinta yang digunakan ‘terlalu kuat’ sehingga kertas yang digunakan termakan terutama pada bagian pinggir pembatas bidang teks, sehingga berpotensi hancur ketika dibuka per halaman. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan ukuran 38 x 25 cm, tebal 7 cm, dengan ukuran bidang teks 26 cm x 15 cm. Mushaf ini terdiri dari 15 baris. Berbeda dengan mushaf sebelumnya, mushaf kuno ini, di bagian akhir mencantumkan doa khatmul Qur’an, dan doa-doa lainnya, sehingga terlihat cukup lengkap.

p

Mushaf 4

Di antara mushaf koleksi Musem Linggam lainnya, mushaf ini yang cukup istimewa, karena mushaf ini memiliki catatan kolopon pada bagian akhir mushaf yang memuat keterangan tentang identitas penulis dan tahunpenyalinan. Kolofon pada mushaf menerangkan bahwa penulis mushaf ini adalah H. Abdul Karim bin ‘Abbas bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah. Tarikh penulisannya hari Jumat, 13 Jumadil Awal 1249 H, (27 September 1833). Mushaf ini dipamerkan bersama dengan tiga mushaf lainnya karena memiliki keterangan yang cukup lengkap. Ukuran mushaf 33 x 20 cm, tebal 7 cm, dengan bidang teks 22 x 12 cm. Tidak jauh berbeda dengan mushaf sebelumnya, tinta yang digunakan adalah hitam dan merah dengan penggunaan sebagaimana mushaf lainnya. Tulisan Al-Quran kuno ini menggunakan rasm imlai sementara qiraat yang dipakai adalah qiraat Hafs ‘an ‘Asim, dan jumlah barisnya adalah 15. Mushaf ini sudah menggunakan sejumlah tanda baca, tajwid, dan waqaf. Sama dengan mushaf sebelumnya, lafaz Allah sudah menggunakan fathah berdiri sebagaimana digunakan pada mushaf standar Indonesia.

Mushaf 5

Tidak berbeda dengan yang lain, mushaf ini terdiri dari 15 baris setiap halaman, menggunakan tinta warna merah, hitam, dan kuning. Hitam digunakan utuk teks utama, merah dipakai untuk pananda awal surah dan pembatas bidang teks yang dikombinasi warna hitam, sementara kuning digunakan untuk penandaan ayat. Ukuran mushaf 33 x 21 cm, tebal 6 cm dengan ukuran bidang teks 23 x 13 cm. Rasm yang digunakan adalah rasm imlai dengan pengecualian beberapa lafaz sepertishalat, zakat dan lainnya. Tulisan mushaf kuno ini juga sudah menggunakan penanda mad wajib dan jaiz. Penandaan lain seperti rubu’ sumun dan ruku’ tidak ada. Yang ada hanya nisf dan penandaan juz. (*)

About aan

Pernah bergelut di dunia jurnalistik selama 5 tahun dan dua tahun sebagai Sekretaris Desa. Media ini Merupakan sarana informasi yang dibangun untuk mempublikasikan ide dan gagasan, maupun informasi tentang desa di Nusantara. Isi informasi dan berita berasal dari sumber dan media yang dipercaya. Media ini bersifat privasi dan memiliki tujuan positif untuk membantu desa mendapatkan informasi. Bukan untuk bisnis, pengelola menerima berita dari desa dan artikel seputar desa. : WA :081364175687 dan email : neniastaria1987@gmail.com

Check Also

Organisasi Askar Betanjak Karimun Beri Dukungan Moril Pada Gubernur Kepri Terjerat OTT KPK

Karimun – Organisasi Askar Betanjak Kabupaten Karimun memberikan dukungan moril kepada Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang …