Home / KOLOM PENULIS / Bercadar itu bukan Pakaian Arab tapi Muslim, Beda Dengan Pakaian Adat Indonesia

Bercadar itu bukan Pakaian Arab tapi Muslim, Beda Dengan Pakaian Adat Indonesia

Mayoritas agama dianut di Indonesia itu adalah Muslim. Jumlah Muslim di Indonesia mencapai 90 persen dari populasi penduduk kita.

Sejarah juga membuktikan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Arab (Timur Tengah). Islam di Indonesia memang cukup kental dengan budaya Timur Tengah. Baik dari segi berpakaian dan pikiran. Karena sumber utama ilmu muslim berasal Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Dari segi berpakaian yang diatur ketat dalam agama Islam, memang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan. Terutama tentang pelestarian pakaian Nusantara.

Islam melarang keras umatnya tidak menutup aurat apalagi sampai menghumbar-humbar aurat di muka umum. Karena banyak sekali riwayat tentang menutup aurat dan menggenakan hijab terutama bagi kaum hawa.

«قَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ»

Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya). (HR Abu Dawud)

Menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]

Umat muslim seolah-olah saat ini dituduh anti pakaian Nusantara. Padahal, pakaian menutup aurat itu adalah perintah agama kita.

Sifat manusia itu suka menilai orang lain, sehingga lupa akan dirinya sendiri. Saya bukan ingin menjustifikasi mereka itu bersalah atas apa penilaian mereka terhadap orang lain terutama masalah pakaian. Yang akhir2 ini heboh dijagat Maya tentang pakaian ‘Becadar”.

Alias sekarang sedang terjadi perang fashion. Alih-alih, menilai pakaian bercadar itu aliran keras dan pakaian tidak bercadar itu lebih Nusantara dan ke Indonesia.

Perang fashion ini memang menjadi isu hangat untuk menilai apakah mereka berpakaian garis Arab dan berpakaian aliran barat. Padahal, pakaian diajarkan Islam kepada umatnya cukuplah baik dan sekaligus memberikan kesan yang sopan dan bermoral.

Pakaian umat muslim ini memberikan kehormatan tertinggi bagi kaum hawa. Umat muslim di Indonesia memang harus mengikuti agama yang telah mereka ajarkan. Agama tidak harus mengikuti adat, tapi adatlah harus mengikuti agama.

Saya heran melihat mereka yang notaben menilai pakaian Arab ini bukan berasal dari kalangan muslim tapi malah banyak dari non muslim.

About aan

Pernah bergelut di dunia jurnalistik selama 5 tahun dan dua tahun sebagai Sekretaris Desa. Media ini Merupakan sarana informasi yang dibangun untuk mempublikasikan ide dan gagasan, maupun informasi tentang desa di Nusantara. Isi informasi dan berita berasal dari sumber dan media yang dipercaya. Media ini bersifat privasi dan memiliki tujuan positif untuk membantu desa mendapatkan informasi. Bukan untuk bisnis, pengelola menerima berita dari desa dan artikel seputar desa. : WA :081364175687 dan email : neniastaria1987@gmail.com

Check Also

Alokasi Dana Desa Perlu Instrumen Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi di berbagai negara, salah satunya di Indonesia. …