Home / KOLOM PENULIS / Apa Yang Salah Dengan Dunia Pendidikan Kita!
Penulis

Apa Yang Salah Dengan Dunia Pendidikan Kita!

Beberapa waktu lalu, saya sempat menghadiri ceramahnya Ustad Abdul Somad (UAS) di Tanjungberlian Kecamatan Utara Kabupaten Karimun. Seingat saya, dalam ceramahnya UAS mengatakan, kalau orang Jepang itu tidak mengkhawatirkan anaknya dapat juara kelas atau punya prestasi di Sekolah. Itu tidak terlalu penting bagi mereka, namun mereka khawatir apabila anak mereka tidak bisa mengantri.

Sebuah studi di Australia juga menyimpulkan orangtua di Negara kangoru ini mementingkan anaknya tau akan sopan santun dalam budaya antri dibandingkan dibandingkan anaknya mendapatkan nilai bagus dalam mata pelajaran.

Jepang dan Australia  terbilang Negara cukup maju, baik dari segi teknologi dan masyarakatnya. Mereka sudah berpikir kalau prestasi di sekolah tidak menjamin anak mereka akan sopan, pandai mengantri dan berpilaku baik. Namun kalau anak mereka pandai mengantri pasti mereka sopan.

Kemarin seantero dunia maya kita dikejutkan dengan seorang siswa berinsial AA di Kabupaten Gresik yang beraninya menantang guru. Peristiwa itu terjadi di dalam kelas, padahal sang guru itu hanya memberi teguran kesiswanya jangan merokok di dalam kelas.

Nahas dialami guru itu, siswanya malah balik menantang bahkan terlihat mau mengajak gurunya adu jotus.  Setelah kejadian itu viral, hingga sampai pihak kepolisian turun tangan menangani peristiwa ini. Sang guru itu memberi maaf kepada anak didiknya tersebut, mereka berdamai di kantor kepolisian.

Kejadian siswa menantang guru diatas itu akibat dari lemahnya pendidikan moralitas kita saat ini. Kejadian siswa seperti itu apa yang saya lihat bukan hanya sekali terjadi, tapi sudah berkali-kali, berulang-ulang. Saya sendiri pernah merasakan kejadian ini sewaktu masih menjadi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kejadinya sudah lama berlangsung, seingat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA atau sekitar tahun 2004 silam. Pada saat jam pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berlangsung, Ibu guru itu memberi teguran kepada siswa bersangkutan. Namun, rekan kelas saya tak terima ditegur. Ia bergegas beranjak dari bangku tempat ia duduk dan keluar kelas membanting pintu kelas.

Ibu guru PAI itu terlihat ketakutan seketika pintu kelas dibanting. “Drummmm” bunyi pintu.

Teman kelas saya  dikenal sebagai siswa yang nakal bahkan selalu membawa lem cap kambing di dalam kelas. Itu kejadian yang sudah belasan tahun terjadi. Dan alhmdulilah, beliau meski nakal tapi lulus dari SMA.

Itulah pengalaman saya melihat begitu angkuh dan sombongnya sebagian siswa kita saat ini. Nilai menghormati orangtua, guru, terkubur dalam saat ini.  Mereka sudah tidak mengacuhkan lagi, pesan-pesan guru kepada siswanya. Padahal, tidak ada yang salah guru menegur atau mengingatkan kepada anak didiknya jika mereka melakukan tindakan yang salah.

Pada intinya, saat ini pendidikan moralitas perlu ditekankan lagi di sekolah. Terutama pelajaran Agama dan Pendidikan Kewarganegaran (PPKn). Karekter anak-anak kita tengah diuji dengan derasnya pengaruh globalisasi dan teknologi. Dunia tetap sama, namun cara berpikir manusia sudah berubah.

Dengan mudah, anak-anak kita bisa melihat apapun dengan teknologi yang berkembang saat ini seperti Gadget. Kita pun tak akan dapat membendung pengaruh negatif gadget didalamya. Dengan cepatnya perkembangan teknologi saat ini, benteng utama merawat anak-anak dan generasi kita adalah dengan ilmu agama dan moralitas. Sudah waktunya anak-anak kita dikembalikan kepada nilai-nilai luhur bangsa, budaya ketimuran, budaya mengantri dan Pancasila.

Apalagi, Amanat Undang-Undang Pendidikan Nasional, 20 Persen Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) harus dialokasi untuk pendidikan. Dana untuk pendidikan saat ini cukup pantastis besarnya. Membangun Fisik sekolah, dua atau tiga bulan bisa tuntas, tapi membangun karekater butuh waktu panjang. Inilah tantangan dunia pendidikan kita saat ini.

Penulis : Ahmad Yani

About admin

Check Also

Insentif RT/RW Berpeluang Naik, Operasional Pemerintahan Desa Tidak Lagi Masuk Porsi 30 Persen APBDesa

JAKARTA – PP Nomor 11 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua terhadap PP No. 43/2014 yang …