Home / KOLOM PENULIS / Antara Karakter dan Nilai Ujian Anak, Mana Lebih Penting!

Antara Karakter dan Nilai Ujian Anak, Mana Lebih Penting!

Menyamakan orang lain tidak akan mampu kita lakukan. Karena setiap yang terlahir memiliki sifat dan karakter berbeda-beda. Kita hanya bisa menyatukan persepsi dan pendapat. Namun, menyamakan perasaan dan perilaku orang lain itu tidak akan mungkin terjadi.

Banyak pelajaran saya ambil dalam beberapa bulan ini menjadi seorang guru di SMP. Salah satunya adalah sifat dan karakter anak. Disini saya harus memahami mereka, mengetahui keinginan mereka dan kemauan mereka.

BACA JUGA :  Sulap Hutan Menjadi Taman rekreasi

Rambut anak didik saya bisa saja sama-sama hitam, namun mereka memiliki sifat yang tidak sama. Inilah yang harus banyak dipahami seorang guru. Yakni Memahami karakteristik peserta didik.

Saat ini pendidikan karakter memang ditekankan dalam kurikulum kita. Karakter erat hubungannya dengan perilaku. Guru tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tapi harus membentuk ilmu itu dengan karakter yang mulia, berbudi luhur dan pandai bersopan santun. Itulah terpenting membentuk generasi melenial saat ini..

Seorang siswa memiliki nilai tinggi dari ujian, jika perilakunya buruk maka hasil ujian juga bisa berpengaruh. Karena karakternya tidak mencerminkan nilainya.

Saya percaya, jika karakter anak sudah tumbuh dengan baik, mereka pasti akan membentuk aura positif dalam diri mereka.

Dalam penilaian keberhasilan dari seorang siswa itu tidak bisa dinilai dengan angka-angka di atas kertas. Namun, karakteristik inipun menjadi pedoman guru memberikan penilaian kepada anak didiknya.

Saya lebih senang dengan siswa yang memiliki karakter ketimbang nilainya bagus. Apalagi, siswa yang rasa keingintahuan tinggi. Karena siswa seperti ini, ia cenderung banyak ngomel dan bertanya. Dan bahkan terkadang ia mengguras energi untuk mencari tahu sendiri.

Nilai raport tertulis diatas kertas bagi saya itu tidaklah terlalu urgen. Apalagi, hanya sebuah angka-angka belaka. Nilai hanyalah simbol dalam menuntaskan pelajaran selama satu semester.

Namun, pembentukan karakter sejak dini akan membentuk mereka setelah dewasa. Karakter inilah yang akan menjadi mereka lebih diterima masyarakat luas.

Pembentukan karakter memang tidak hanya menjadi tugas para guru di sekolah. Yang lebih berperan utama itu adalah orangtua. Karena anak-anak lebih banyak waktunya bersama orangtua ketimbang di sekolah.

Lingkungan juga cukup berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Anak-anak jangan kita lepaskan dengan bergaul dengan orang-orang yang pemakai narkoba, minum-minuman keras dan pergaulan yang dapat merusak mereka.

Pembentukan karakter itu membutuhkan proses. Anak-anak harus dipahami dengan memahami karakter mereka.

Menurut Sjarkawi (2006:1) bahwasanya:
Karakter adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.

Rahardjo (2010:16) berpendapat bahwa:
Pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan yang holistic yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri sdan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penulis Ahmad Yani
Guru SMPN 2 Senayang

About aan

Media ini Merupakan sarana informasi yang dibangun untuk mempublikasikan ide dan gagasan, maupun informasi tentang desa di Nusantara. Isi informasi dan berita berasal dari sumber dan media yang dipercaya. Media ini bersifat privasi dan memiliki tujuan positif untuk membantu desa mendapatkan informasi. Media ini bukan untuk bisnis.

Check Also

Korupsi Dana Desa Hingga Rp 156 Juta, Mantan Kades di Bojonegoro Dijebloskan Penjara

Bojonegoro – Korupsi dana desa, seorang mantan kepada desa (kades) di Bojonegoro diamankan. Kades bernama Totok …